Membangun Kesadaran Kritis|Friday, April 25, 2014

Brimob Hancurkan Balai Adat BPRPI 

BPRPI

Percut | Konstruktif - Satu truk satuan Brimob (Brigadir Mobil) bersama puluhan oknum dari satuan organisasi kepemudaan (OKP), kembali melakukan teror terhadap Masyarakat Adat Penunggu yang tergabung dalam wadah Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia (BPRPI) di Kampung Mabar Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang, Senin (16/9).

BPRPI2Puluhan Pasukan Brimob, bersama OKP ini memporakporandakan Balai Adat Kampung Mabar yang baru saja didirikan. Puluhan warga dipukuli dan dikejar–kejar, tidak terkecuali 6 orang kaum ibu yang sedang membantu kegiatan pendirian balai tersebut.

Ketua Umum BPRPI Harun Nuh saat dikonfirmasi Konstruktif, Selasa (17/9), membenarkan adanya insiden pengerusakan oleh Brimob dibantu oleh organisasi kepemudaan yang berdampak hancurnya bangunan Balai Adat BPRPI Kampung Mabar, dan menyatakan sikap sangat menyesalkan dan mengutuk tindakan biadab ini.

“Konflik pertanahan yang dialami masyarakat adat yang tergabung dalam BPRPI dengan PTPN II tidak kunjung dapat terselesaikan. Dan, ini adalah sebuah kegagalan Negara. Seharusnya Negara punya konsep tepat, cepat dan tanggap terhadap permasalahan berkepanjangan ini. Jangan sampai nantinya karena proses pembiaran mengakibatkan jatuhnya korban antara kedua belah pihak,” tutur Harun Nuh yang mencalonkan diri sebagai Bupati Deliserdang ini.

“BPRPI selalu mengedepankan pendekatan legal formal, mufakat dan musyawarah. Namun demikian, janganlah terus dipancing, dengan tindakan brutal aparat, karena kesabaran kami juga ada batasnya. Semut saja jika terus disakiti akan melawan,” kata Harun.

Terkait insiden ini, Harun Nuh selaku orang Nomer satu di BPRPI akan tetap menyikapinya melalui prosedural yang berlaku, secara organisasi akan melaporkan ke pihak–pihak terkait khususnya kepada Kapolda Sumut serta pejabat Negara yang berwenang.

Menurut Harun, pihaknya tetap akan menempuh jalur hukum secara legal formal, meskipun sebenarnya tidak yakin laporan ini membuahkan hasil dan tidak akan menggantikan kerugian yang ditimbulkan dari kebrutalan aparat terhadap masyarakat adat.

“Jika tindakan melawan hukum sebagaimana dipertontonkan Brimob dan oknum-oknum OKP ini tidak segera dihentikan, tidak menutup kemungkinan BPRPI membawa perkara ini ke Mahkamah Internasional. Jika itu terjadi, tentunya akan semakin mempermalukan bangsa kita,” papar Calon Bupati Kabupaten Deli Serang ini.

Untuk menghindari bentrokkan meluas, para pengurus BPRPI Kampung Mabar berupaya menahan diri dan menginstruksikan kepada seluruh anggotanya agar tidak terprovokasi.

Amukan pasukan berseragam Brimob bersenjatakan bedil laras panjang ini, dibantu puluhan pemuda berseragam PP dan IPK ini tidak mendapat perlawanan berarti dari masyarakat, sehingga dengan leluasa mereka merubuhkan balai adat yang baru saja didirikan.

“Sekitar pukul 13.00 Wib, tiba–tiba 1 truk Pasukan Brimob bersama dengan puluhan pemuda berseragam PP dan IPK masuk dan menghancurkan bangunan balai adat yang sedang kami dirikan. Untungnya kami dapat menahan diri, sehingga tidak terjadi pertumpahan darah, meski kami menderita kerugian puluhan juta akibat kejadian tersebut,” ujar Nazaruddin Sekretaris BPRPI Kampung Mabar, menuturkan kepada Konstruktif, Selasa (17/9).

Menurut Nazar, lahan seluas 42 hektar yang saat ini dikelola masyarakat adat anggota BPRPI sudah 2 tahun diduduki, dan sebagian masyarakat juga sudah ada yang mendirikan bangunan perumahan dan mengelola lahan pertanian sebagai penghidupan bagi warga.

Di daerah ini tidak hanya BPRPI saja yang melakukan penguasaan terhadap lahan, akan tetapi banyak pengembang serta mafia tanah bergentayangan yang justru lebih luas menguasai lahan.

“Ribuan hektar digarap mereka, dan tidak ada yang menggangu,” tegas Nazar.

Sementara menurut Nazar, yang mereka kuasai, hanya berkisar 42 hektar saja, dari 2.500 hektar yang sudah diklaim dan telah pula mendapat pengakuan dari pemerintah Provinsi Sumut.

“Sudah banyak pihak yang menggangu, tapi kenapa lahan–lahan yang dikuasai oleh pengembang serta mafia tanah dengan luasan mencapai ribuan hektar, yang terletak tak jauh dari lokasi kami tidak ada yang berani mengusilinya,” tanya Nazar dengan nada kecewa. (Ruliyanto)       

 

Komentar

comments